Arti dari huruf kanji jepang yang aku jadikan judul blog adalah kisah, dibaca 'monogatari'. Ini kisah bersambung online ku. Nama tokoh aku ambil dari nama sohib-sohibku. Soalnya, kalau soal nama dalan cerita, aku susah nyari-nya dan nama yang kupakai ini cukup keren, lah. Kuharap kalian menyukainya. Kalau bisa mohon kritik dan saran kalian tentang kisah-kisah ini, supaya aku bisa membuat kisah yang lebih menarik lagi untuk kalian. Arigatou Gozaimashita~~~~.... \(^-^)/
Sabtu, 18 Februari 2012
THERE IS AN ILLUSION AFTER HOLIDAY
Sepoi-sepoi angin masih terasa waktu itu. Pemandangan gunung dan desa dikejauhan, tampak jelas dan memukau. Suara motor Bhima tidak seperti biasanya, tidak kencang dan berisik. Mungkin masih kepikiran oleh Sara yang dilanda duka. Begitu juga Alex dan yang lain. Benar saja, sesuai perkiraan Sara, mereka berkupul dirumah Bhima. Karena gerimis, Bhima menyuruh teman-temannya duduk di ruang tamu, bukan di pondok kecil milik Bhima yang biasa di buat untuk nongkrong. Alex berdiri dan Sindy duduk diteras sambil memandang gerimis yang jatuh dari zona biru, Sisil dan Marcel duduk berdekatan bersandar ditembok didepan TV. Sedangkan Bhima bersandar pada pintu ruang tamu yang terbuka lebar. "Sara pasti bakalan kenapa-kenapa...", kata Marcel memecah keheningan. Semua terbangun dari lamunan dan menoleh ke arah Marcel yang menatap kosong. Alex hanya terdiam seperti tidak terbangun dari lamunannya. "ayo, diminum dulu susunya mumpung masih anget. Bhim, ambil pisang gorengnya didapur. Cepet....". "ya, Bun...", sahut Bhima pada Bundanya. Wanita gemuk yang periang dan dipanggil "Bunda" oleh Bhima itu, menyajikan 5 cangkir susu cokelat yang dibawanya dengan nampan alumunium didepan Marcel dan Sisil secara melingkar. Sehingga ditengahnya, Bhima bisa meletakkan pisang goreng buatan sang Bunda. Sambil menata, Bunda Bhima berkata, "semua ini modalnya cuma sabar, Nak. Tante yakin, Sara bisa menerimanya. Toh, dia gadis yang kuat menurut Tante. Hibur dia saat disekolah kalau sudah mulai masuk sekolah. Dia pasti butuh kalian untuk penghiburnya.", melihat beliau dari luar yang berkata demikian dengan tersenyum manis, Alex masuk kedalam dan berkata dengan semangat, " Tante benar! Kita harus bantu Sara, hibur Sara! Kita adalah harapannya saat ini'', Bunda langsung terduduk melihat Alex bereaksi demikian. "tapi, gimana caranya, coba? Kata sabar udah kita lontarkan berkali-kali. Tetep dia lesu kayak gitu...", ucap Sisil yang dibarengi oleh Bhima yang mengambil 2 cangkir susu, untuknya dan Sindy. "lagian, kalian tau sendiri kan, kalau Sara terlanjur sedih, nge-hibur dia susahnya minta ampun...", ucapan Sindy yang dengan tatapan kosong itu terhenti karena Bhima menyuguhkan susu yang dia bawa dan meminumnya, "... apalagi... Kejadian itu pasti bikin hati Sara sangat sedih. Pastilah susah buat kita hibur dia. Susah banget!". Mungkin karena Alex pendengar yang baik, dia sangat mengerti yang dikatakan Sindy. "aku tau itu, Sin. Kita punya waktu 6 hari sebelum masuk sekolah buat mikir gimana cara kita hibur Sara". "6 hari dari sekarang. Seharusnya kamu udah mikirin salah satu cara, ya kan?", tanya Bhima yang menghampiri Alex. "absolutely yes! Dan diotakku udah ada segudang cara simple buat hibur Sara....", jawab Alex mantap. Yang lain merubah ekspresi mereka dari sedih menjadi serius menatap dan mendengar Alex. "...apa?", tanya Marcel. "rencananya...."
Minggu, 29 Januari 2012
THERE IS AN ILLUSION & MIRAGE AFTER HOLIDAYS
Bhima yang pertama mendekati Sara, kemudian diikuti yang lain dibelakangnya. Ketika mulai mendekati Sara, Bhima mendengar bisikan yang muncul dari mulut Sara. "semua ini percuma. Nggak ada yang bisa dilakuin lagi, nggak ada.... yang akan menyayangi aku lagi...", Bhima dan yang lain hanya tertegun, terdiam, bingung mendengar kata-kata yang diucapkan Sara. Memecah keheningan sesaat itu, Sara langsung menengok ke arah Bhima. Lalu, "ya kan? Itu benarkan....?", tanya Sara pada Bhima. Sara mulai menyeringai, "ya! Itu benar!Aku tahu itu....", kata Sara seraya meninggalkan mereka. "lebih baik kalian pulang, bukannya mengusir kalian. Aku hanya tidak ingin kalian melihatku yang sekarang ini terlalu lama. Besok lusa sudah mulai sekolah. Mungkin aku nggak masuk sekolah dulu.", terang Sara pada teman-temannya dengan ekspresi tak terberbani oleh apapun. Sara mendatangi Marcel, sambil tersenyum ia berkata, "Cel, bisa kan kamu ijinkan aku ke Pak Akbar? Kalau aku masuk, nanti suratnya aku bawa. Tolong jangan bilang kalau kakekku meninggal. Bilang aja aku masih ada acara dadakan atau sakit. Okay?", Marcel hanya menatap mata Sara. Tak terlihat air mata yang terlinang. "Marcel.... Aku percaya sama kamu...", kata Sara lagi. Sisil yang ada dibelakang Sara tiba-tiba memeluk Sara erat-erat. Sara membalas pelukannya. "yang sabar ya, Sar....", kata Sisil sambil menangis. "iya , Sil. Makasih". Marcel dan Sindy bergantian memeluk Sara. Alex hanya menyalami tangan Sara yang dingin, tangan kirinya memegang pundak Sara. Sara tersenyum seperti, kau tahu, seperti tak ada yang membuatnya sedih. Bhima pun melakukan hal yang sama seperti Alex. Dia juga merasakan hal aneh pada Sara. Merekapun pergi meninggalkan Sara. Ternyata mereka searah ke utara. Mungkin ke rumah Bhima, pikir Sara. Saat mereka mulai jauh, Sara berteriak "aku nggak apa-apa, guys! See ya!!!", Sara berteriak dari kejauhan. Teman-temannya pun sudah tak terlihat sangat cepat karena mereka mengendarai sepeda motor, kecuali Alex tentunya.
Sabtu, 07 Januari 2012
THERE IS AN ILLUSION & MIRAGE AFTER HOLIDAYS
"Sar, Sara. Kamu nggak apa-apa?", tanya Marcel ketika Sara mulai bangun. "aku nggak apa- apa kok. Biasa, kecapean doang. Waktu kakek sekarat aku lari ke Jln. Garuda 16, rumah dr. Robin. Aku bisa lari cepat lho walau jalannya nanjak! Hehehe....", kata Sara sambil tertawa kecil. Yang lain hanya saling memandang cemas. Alex tahu itu tawa palsu Sara, karena genggaman Sara semakin kuat tanda Sara menahan kesedihannya. Rombongan kembali berjalan menuju pemakaman. Setelah sampai, Sara meminta teman-teman menemaninya dari kejauhan. Ketika jenazah mulai ditutupi tanah kubur, Sara yang dari tadi terdiam melihat prosesi pemakaman tak bisa lagi menahan air matanya. Dia menagis sangat kencang, mulai berjongkok sambil menatap sedih dan menyesal. Kedua tangannya gemetaran sangat kencang. Beruntung disebelah kirinya ada Sindy yang memeluknya. Jika tidak, mungkin saja Sara akan ambruk. Sisil ikut-ikutan menangis dan memeluk Marcel, Alex memegang pundak Sara, Bhima hanya diam terpaku tak tahu apa yang harus dilakukan. Tak terdengar apapun. Suara 'amin...' yang serempak juga tak terdengar. Yang terdengar hanya suara angin yang berhembus melewati 6 sahabat itu. Dimata Sara yang terlihat hanya buram berwarna-warni karena air matanya menutupi mata sedihnya. Seperti sinema yang dinonaktifkan audionya, kosong menyengat telinga. Waktu seperti berhenti, bukan, hanya diperlambat. Dan itu membuat Sara semakin histeris. Prosesi pun selesai. Sara ingin ikut pulang bersama rombongan, dia tak mau kepemakaman kakek tercintanya. "Semakin menambah lukaku saat ini.....", begitu alasannya. Yang ikut bersama Sara kembali pulang hanya Sindy. Itupun perintah dari Bhima. Sedangkan yang lain masih ingin berdoa di makam kakek Sara. Setelah itu mereka cepat-cepat kembali kerumah duka. Terlihat Sara duduk terpaku dibawah pohon cemara didepan rumahnya. Pandangan Sara kosong. Bhima menghampiri Sindy yang berdiri 15 langkah dari Sara sedang mengawasi Sara. "hei, ngapain kamu diem aja disini? Nggak kasian tuh melihat Sara kayak gitu. Kamu bener-bener pedulinya cuman disaat temen seneng aja ya?!", kata Bhima marah tapi dengan nada pelan. "hei, denger ya! Kalau ternyata... Sara yang nyuruh aku... Berdiri diam disini dengan perasaan cemas, apa kamu bakalan nerik kata-kata kamu itu, Bhim?", balas Sindy bernada sama dengan Bhima. Bhima hanya diam dan melirik Sara. Marcel kemudian datang menghampiri mereka berdua, diikuti Alex dan Sisil dibelakangnya. "kita harus hentiin sedih Sara. Kasihan Sara, dia terpukul banget atas kepergian kakeknya. Mumpung belum kesambet dia....", saran Marcel. Semua mengagguk. Tapi, ada sesuatu yang aneh terjadi.....
Langganan:
Postingan (Atom)