Sabtu, 18 Februari 2012

THERE IS AN ILLUSION AFTER HOLIDAY

Sepoi-sepoi angin masih terasa waktu itu. Pemandangan gunung dan desa dikejauhan, tampak jelas dan memukau. Suara motor Bhima tidak seperti biasanya, tidak kencang dan berisik. Mungkin masih kepikiran oleh Sara yang dilanda duka. Begitu juga Alex dan yang lain. Benar saja, sesuai perkiraan Sara, mereka berkupul dirumah Bhima. Karena gerimis, Bhima menyuruh teman-temannya duduk di ruang tamu, bukan di pondok kecil milik Bhima yang biasa di buat untuk nongkrong. Alex berdiri dan Sindy duduk diteras sambil memandang gerimis yang jatuh dari zona biru, Sisil dan Marcel duduk berdekatan bersandar ditembok didepan TV. Sedangkan Bhima bersandar pada pintu ruang tamu yang terbuka lebar. "Sara pasti bakalan kenapa-kenapa...", kata Marcel memecah keheningan. Semua terbangun dari lamunan dan menoleh ke arah Marcel yang menatap kosong. Alex hanya terdiam seperti tidak terbangun dari lamunannya. "ayo, diminum dulu susunya mumpung masih anget. Bhim, ambil pisang gorengnya didapur. Cepet....". "ya, Bun...", sahut Bhima pada Bundanya. Wanita gemuk yang periang dan dipanggil "Bunda" oleh Bhima itu, menyajikan 5 cangkir susu cokelat yang dibawanya dengan nampan alumunium didepan Marcel dan Sisil secara melingkar. Sehingga ditengahnya, Bhima bisa meletakkan pisang goreng buatan sang Bunda. Sambil menata, Bunda Bhima berkata, "semua ini modalnya cuma sabar, Nak. Tante yakin, Sara bisa menerimanya. Toh, dia gadis yang kuat menurut Tante. Hibur dia saat disekolah kalau sudah mulai masuk sekolah. Dia pasti butuh kalian untuk penghiburnya.", melihat beliau dari luar yang berkata demikian dengan tersenyum manis, Alex masuk kedalam dan berkata dengan semangat, " Tante benar! Kita harus bantu Sara, hibur Sara! Kita adalah harapannya saat ini'', Bunda langsung terduduk melihat Alex bereaksi demikian. "tapi, gimana caranya, coba? Kata sabar udah kita lontarkan berkali-kali. Tetep dia lesu kayak gitu...", ucap Sisil yang dibarengi oleh Bhima yang mengambil 2 cangkir susu, untuknya dan Sindy. "lagian, kalian tau sendiri kan, kalau Sara terlanjur sedih, nge-hibur dia susahnya minta ampun...", ucapan Sindy yang dengan tatapan kosong itu terhenti karena Bhima menyuguhkan susu yang dia bawa dan meminumnya, "... apalagi... Kejadian itu pasti bikin hati Sara sangat sedih. Pastilah susah buat kita hibur dia. Susah banget!". Mungkin karena Alex pendengar yang baik, dia sangat mengerti yang dikatakan Sindy. "aku tau itu, Sin. Kita punya waktu 6 hari sebelum masuk sekolah buat mikir gimana cara kita hibur Sara". "6 hari dari sekarang. Seharusnya kamu udah mikirin salah satu cara, ya kan?", tanya Bhima yang menghampiri Alex. "absolutely yes! Dan diotakku udah ada segudang cara simple buat hibur Sara....", jawab Alex mantap. Yang lain merubah ekspresi mereka dari sedih menjadi serius menatap dan mendengar Alex. "...apa?", tanya Marcel. "rencananya...."