Kamis, 29 Desember 2011

THERE IS AN ILLUSION & MIRAGE AFTER HOLIDAYS

  ".... Gitu ya? Jadi, kamu memang.....", kata Alex sambil berbalik. Ketika Alex akan berbalik, Sara yang duduk diam sambil memainkan bunga, tiba-tiba saja menggandeng tangan Alex dan menraiknya perlahan. Alex terhenti dan menatapnya. "nggak kok. Aku juga suka sama kamu, tapi aku pikirkan dulu. Bukannya aku nolak kamu, aku cuma butuh waktu. Okay?", kata Sara tersenyum pada Alex. Melihat ekspresi Sara yang santai dan tersenyum, Alex terdiam dan mulai membalas senyuman Sara. Genggaman Alex mulai dieratkannya. Dan dia pun menjawab pertanyaan Sara, "okay! I'll wait!", balas Alex. Memori itu hilang tiba-tiba ketika Sara yang akan berdiri tiba-tiba pingsan. Sahabat-sahabatnya mulai panik. Berusaha agar suasana yang hening tiba-tiba tidak pecah, mereka menangani Sara dengan pelan. Sindy meminta bantuan pada seorang tetangganya yang kebetulan juga teman sang kakek Sara. "Om, tolongin temenku, Om! Dia pingsan...", kata Sindy panik sambil menunjuk ke arah teman-temannya yang sedang menolong Sara. "ya sudah! Kamu beli air putih ditoko dulu sama minyak kayu putih. Cepet!", kata orang itu pada Sindy sebelum menuju teman-temannya. Sindy berlari menuju sebuah toko. Beruntung toko itu sangat dekat, sehingga Sindy cepat kembali dan langsung memberikan barang yang diminta pada tetangganya yang sedang menolong Sara. Botol minyak kayu putih dibuka oleh orang itu dan didekatkan pada hidung Sara. Baunya yang menyengat membuat Sara siuman perlahan-lahan. "tangannya dingin.... Dia gemetaran...", kata Alex yang dari tadi memegang tangan kanan Sara dengan wajah cemas. Yang lain hanya mentapnya, dan kemudian kembali membangunkan Sara. "Sar, Sara. Kamu nggak apa-apa?", tanya Marcel ketika Sara mulai bangun. Bhima membantu Sara untuk minum. Disaat itulah Alex mulai merasa dadanya panas dan sakit. Tapi mulai reda karena genggaman Sara semakin kuat. Alex melirik kegenggaman itu, dia mulai berfikir sesuatu. Apakah Sara benar-benar mulai menyukainya dan akan menerima cintanya?

THERE IS AN ILLUSION & MIRAGE AFTER HOLIDAYS

 Entah kenapa Alex mulai ikut sedih ketika melihat Sara menangis. Dia seperti sangat mengerti apa yang dirasakan Sara. Alex mulai mengingat kembali memori yang tak mungkin ia lupakan. 1 bulan yang lalu diatas bukit sore hari....... "Sara?", panggil Alex. "ya?", jawab Sara. "aku, aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacarku?", ungkap perasaan Alex pada Sara yang sedang memainkan bunga yang masih kuncup, "ng...?", kata Sara. "apa? Aku... nggak salah denger?", kata Sara lagi pada Alex. Alex tersenyum sambil menggeleng. "enggak, Sar. Kamu nggak salah denger. Aku suka sama kamu. Kamu mau kan, jadi pacar aku?", tawar Alex sekali lagi. Sara hanya terdiam, dia menundukkan kepalanya beberapa saat. "kenapa? Kamu nggak suka sama aku ya? Atau.... Apa kamu sudah punya cowok lain?", tanya Alex sambil mendekati Sara. Karena Alex hanya melihat Sara terdiam, dia pun melangkah mundur dengan wajah sedih, berpura-pura senyum pula,  ".... Gitu ya? Jadi, kamu memang.....", kata Alex sambil berbalik.

(maaf sedikit, ada kesibukan sendiri T-T)

Selasa, 27 Desember 2011

THERE IS AN ILLUSION & MIRAGE AFTER HOLIDAYS

"kalian datang juga rupanya!". "Sara?!?!?", ucap Marcel dan Alex tersentak kaget. "Ssstt...... Jangan keras-keras, dong! Di dengar orang tau?", ucap Sindy. "tapi, tadi ada Sara, Sin", terang Alex. "mana? Nggak ada tuh", kata Sisil.Tiba-tiba saja, orang itu menatap satu-persatu mata Sindy, Bhima, dan Sisil dengan sangat dekat. "Sara, ngapain lihatin mata kita deket-deket? Kayak gag ada kerjaan lain", kata Bhima. "iya, nutup mata kita dari belakang lagi! Kaget tau...", kata Marcel. "maaf, refleks. Aku kangen sama kalian. 1 minggu 6 hari aku nggak ketemu kalian, kayak 1 abad 6 bulan....", ujar Sara. "lebay-nya kambuh, deh....", canda Bhima. Sara tersenyum lebar. "Tadi kayaknya kamu nggak lewat disebelah kami, auramu juga nggak kerasa. Nggak kerasa ada yang lewat dari samping. Darimana kamu munculnya? ....", tanya Alex. "ada deh! Mau tau ajah!", jawab Sara dengan lagak sedikit menggoda. Yang lain saling pandang dan bertanya-tanya "ngomong-ngomong, siapa yang......?", tanya Sindy sambil melirik jenazah yang siap dimasukkan dalam keranda. Sara melihat jenazah itu sambil menghela nafas dalam-dalam dan berkata "kakekku...", dengan wajah sangat sedih. "sebentar lagi mau dikuburin, mau ikut? Tapi harus nunggu juga, soalnya mau dishalatin di Masjid dulu baru kepemakaman", ucap Sara halus dan berusaha untuk tegar.Sindy menggandeng tangan Sara perlahan-lahan, "kita sahabat. Kita akan selalu bersama jika ada yang sedih....", kata Sindy tersenyum. "juga bahagia, Sob!", sambung Alex. Sara yang tadinya  mendung, mulai terang kembali. Matanya berkaca-kaca, bukan sedih tapi terharu. Jenazah mulai dibawa ke Masjid. Mereka berlima berada dibarisan paling belakang. Ketika jenazah dishalatkan, mereka menunggu didepan Masjid. Duduk dikayu pohon yang telah tumbang 8 bulan yang lalu. Karena didaerah bukit, walau sang waktu telah menunjukkan pukul 09.00 WIB, suasana masih sejuk dan tidak  panas. Cahaya matahari menembus celah-celah daun barisan pohon cemara dibelakang mereka. Burung-burung pipit berkicau, sahut-sahutan. Jalanan masih basah karena gerimis disubuh hari. Itulah yang dirasakan kelima sahabat Sara. Suasana seperti inilah yang harus terjadi dan dirasakan oleh Sara ketika kakek tersayangnya telah tiada. Mungkin dengan seperti itu, beban, sedih, dan kesepian Sara terkelupas perlahan-lahan. Sara yang duduk diantara Sisil dan Marcel, melihat kearah burung-burung pipit yang terbang dan bersarang didahan pohon cemara. Pantulan sinar matahari yang lewat dicelah-celah daun cemara yang menari karena sepoi-sepoi angin, mengenai mata dan wajah Sara. Saat itulah tanpa sadar, air mata Sara mengalir dipipinya. Mata Sara ditutupnya agar air matanya berhenti untuk mengalir. "Sar, kamu nggak apa-apa?", tanya Marcel. "enggak, nggak apa-apa kok! Santai aja kali. Aku cuma sedikit sedih. Suasana permai kayak gini nggak bisa dirasain lagi sama kakekku....", terang Sara. "yakin kamu nggak apa-apa?", tanya Alex yang cemas pada Sara.  Sara hanya bisa tersenyum kecil untuk meyakinkan Alex. Entah kenapa Alex mulai ikut sedih ketika melihat Sara menangis. Dia seperti sangat mengerti apa yang dirasakan Sara.