Sabtu, 07 Januari 2012

THERE IS AN ILLUSION & MIRAGE AFTER HOLIDAYS

"Sar, Sara. Kamu nggak apa-apa?", tanya Marcel ketika Sara mulai bangun. "aku nggak apa- apa kok. Biasa, kecapean doang. Waktu kakek sekarat aku lari ke Jln. Garuda 16, rumah dr. Robin. Aku bisa lari cepat lho walau jalannya nanjak! Hehehe....", kata Sara sambil tertawa kecil. Yang lain hanya saling memandang cemas. Alex tahu itu tawa palsu Sara, karena genggaman Sara semakin kuat tanda Sara menahan kesedihannya. Rombongan kembali berjalan menuju pemakaman. Setelah sampai, Sara meminta teman-teman menemaninya dari kejauhan. Ketika jenazah mulai ditutupi tanah kubur, Sara yang dari tadi terdiam melihat prosesi pemakaman tak bisa lagi menahan air matanya. Dia menagis sangat kencang, mulai berjongkok sambil menatap sedih dan menyesal. Kedua tangannya gemetaran sangat kencang. Beruntung disebelah kirinya ada Sindy yang memeluknya. Jika tidak, mungkin saja Sara akan ambruk. Sisil ikut-ikutan menangis dan memeluk Marcel, Alex memegang pundak Sara, Bhima hanya diam terpaku tak tahu apa yang harus dilakukan. Tak terdengar apapun. Suara 'amin...' yang serempak juga tak terdengar. Yang terdengar hanya suara angin yang berhembus melewati 6 sahabat itu. Dimata Sara yang terlihat hanya buram berwarna-warni karena air matanya menutupi mata sedihnya. Seperti sinema yang dinonaktifkan audionya, kosong menyengat telinga. Waktu seperti berhenti, bukan, hanya diperlambat. Dan itu membuat Sara semakin histeris. Prosesi pun selesai. Sara ingin ikut pulang bersama rombongan, dia tak mau kepemakaman kakek tercintanya. "Semakin menambah lukaku saat ini.....", begitu alasannya. Yang ikut bersama Sara kembali pulang hanya Sindy. Itupun perintah dari Bhima. Sedangkan yang lain masih ingin berdoa di makam kakek Sara. Setelah itu mereka cepat-cepat kembali kerumah duka. Terlihat Sara duduk terpaku dibawah pohon cemara didepan rumahnya. Pandangan Sara kosong. Bhima menghampiri Sindy yang berdiri 15 langkah dari Sara sedang mengawasi Sara. "hei, ngapain kamu diem aja disini? Nggak kasian tuh melihat Sara kayak gitu. Kamu bener-bener pedulinya cuman disaat temen seneng aja ya?!", kata Bhima marah tapi dengan nada pelan. "hei, denger ya! Kalau ternyata... Sara yang nyuruh aku... Berdiri diam disini dengan perasaan cemas, apa kamu bakalan nerik kata-kata kamu itu, Bhim?", balas Sindy bernada sama dengan Bhima. Bhima hanya diam dan melirik Sara. Marcel kemudian datang menghampiri mereka berdua, diikuti Alex dan Sisil dibelakangnya. "kita harus hentiin sedih Sara. Kasihan Sara, dia terpukul banget atas kepergian kakeknya. Mumpung belum kesambet dia....", saran Marcel. Semua mengagguk. Tapi, ada sesuatu yang aneh terjadi.....

Kamis, 29 Desember 2011

THERE IS AN ILLUSION & MIRAGE AFTER HOLIDAYS

  ".... Gitu ya? Jadi, kamu memang.....", kata Alex sambil berbalik. Ketika Alex akan berbalik, Sara yang duduk diam sambil memainkan bunga, tiba-tiba saja menggandeng tangan Alex dan menraiknya perlahan. Alex terhenti dan menatapnya. "nggak kok. Aku juga suka sama kamu, tapi aku pikirkan dulu. Bukannya aku nolak kamu, aku cuma butuh waktu. Okay?", kata Sara tersenyum pada Alex. Melihat ekspresi Sara yang santai dan tersenyum, Alex terdiam dan mulai membalas senyuman Sara. Genggaman Alex mulai dieratkannya. Dan dia pun menjawab pertanyaan Sara, "okay! I'll wait!", balas Alex. Memori itu hilang tiba-tiba ketika Sara yang akan berdiri tiba-tiba pingsan. Sahabat-sahabatnya mulai panik. Berusaha agar suasana yang hening tiba-tiba tidak pecah, mereka menangani Sara dengan pelan. Sindy meminta bantuan pada seorang tetangganya yang kebetulan juga teman sang kakek Sara. "Om, tolongin temenku, Om! Dia pingsan...", kata Sindy panik sambil menunjuk ke arah teman-temannya yang sedang menolong Sara. "ya sudah! Kamu beli air putih ditoko dulu sama minyak kayu putih. Cepet!", kata orang itu pada Sindy sebelum menuju teman-temannya. Sindy berlari menuju sebuah toko. Beruntung toko itu sangat dekat, sehingga Sindy cepat kembali dan langsung memberikan barang yang diminta pada tetangganya yang sedang menolong Sara. Botol minyak kayu putih dibuka oleh orang itu dan didekatkan pada hidung Sara. Baunya yang menyengat membuat Sara siuman perlahan-lahan. "tangannya dingin.... Dia gemetaran...", kata Alex yang dari tadi memegang tangan kanan Sara dengan wajah cemas. Yang lain hanya mentapnya, dan kemudian kembali membangunkan Sara. "Sar, Sara. Kamu nggak apa-apa?", tanya Marcel ketika Sara mulai bangun. Bhima membantu Sara untuk minum. Disaat itulah Alex mulai merasa dadanya panas dan sakit. Tapi mulai reda karena genggaman Sara semakin kuat. Alex melirik kegenggaman itu, dia mulai berfikir sesuatu. Apakah Sara benar-benar mulai menyukainya dan akan menerima cintanya?

THERE IS AN ILLUSION & MIRAGE AFTER HOLIDAYS

 Entah kenapa Alex mulai ikut sedih ketika melihat Sara menangis. Dia seperti sangat mengerti apa yang dirasakan Sara. Alex mulai mengingat kembali memori yang tak mungkin ia lupakan. 1 bulan yang lalu diatas bukit sore hari....... "Sara?", panggil Alex. "ya?", jawab Sara. "aku, aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacarku?", ungkap perasaan Alex pada Sara yang sedang memainkan bunga yang masih kuncup, "ng...?", kata Sara. "apa? Aku... nggak salah denger?", kata Sara lagi pada Alex. Alex tersenyum sambil menggeleng. "enggak, Sar. Kamu nggak salah denger. Aku suka sama kamu. Kamu mau kan, jadi pacar aku?", tawar Alex sekali lagi. Sara hanya terdiam, dia menundukkan kepalanya beberapa saat. "kenapa? Kamu nggak suka sama aku ya? Atau.... Apa kamu sudah punya cowok lain?", tanya Alex sambil mendekati Sara. Karena Alex hanya melihat Sara terdiam, dia pun melangkah mundur dengan wajah sedih, berpura-pura senyum pula,  ".... Gitu ya? Jadi, kamu memang.....", kata Alex sambil berbalik.

(maaf sedikit, ada kesibukan sendiri T-T)