"kalian datang juga rupanya!". "Sara?!?!?", ucap Marcel dan Alex tersentak kaget. "Ssstt...... Jangan keras-keras, dong! Di dengar orang tau?", ucap Sindy. "tapi, tadi ada Sara, Sin", terang Alex. "mana? Nggak ada tuh", kata Sisil.Tiba-tiba saja, orang itu menatap satu-persatu mata Sindy, Bhima, dan Sisil dengan sangat dekat. "Sara, ngapain lihatin mata kita deket-deket? Kayak gag ada kerjaan lain", kata Bhima. "iya, nutup mata kita dari belakang lagi! Kaget tau...", kata Marcel. "maaf, refleks. Aku kangen sama kalian. 1 minggu 6 hari aku nggak ketemu kalian, kayak 1 abad 6 bulan....", ujar Sara. "lebay-nya kambuh, deh....", canda Bhima. Sara tersenyum lebar. "Tadi kayaknya kamu nggak lewat disebelah kami, auramu juga nggak kerasa. Nggak kerasa ada yang lewat dari samping. Darimana kamu munculnya? ....", tanya Alex. "ada deh! Mau tau ajah!", jawab Sara dengan lagak sedikit menggoda. Yang lain saling pandang dan bertanya-tanya "ngomong-ngomong, siapa yang......?", tanya Sindy sambil melirik jenazah yang siap dimasukkan dalam keranda. Sara melihat jenazah itu sambil menghela nafas dalam-dalam dan berkata "kakekku...", dengan wajah sangat sedih. "sebentar lagi mau dikuburin, mau ikut? Tapi harus nunggu juga, soalnya mau dishalatin di Masjid dulu baru kepemakaman", ucap Sara halus dan berusaha untuk tegar.Sindy menggandeng tangan Sara perlahan-lahan, "kita sahabat. Kita akan selalu bersama jika ada yang sedih....", kata Sindy tersenyum. "juga bahagia, Sob!", sambung Alex. Sara yang tadinya mendung, mulai terang kembali. Matanya berkaca-kaca, bukan sedih tapi terharu. Jenazah mulai dibawa ke Masjid. Mereka berlima berada dibarisan paling belakang. Ketika jenazah dishalatkan, mereka menunggu didepan Masjid. Duduk dikayu pohon yang telah tumbang 8 bulan yang lalu. Karena didaerah bukit, walau sang waktu telah menunjukkan pukul 09.00 WIB, suasana masih sejuk dan tidak panas. Cahaya matahari menembus celah-celah daun barisan pohon cemara dibelakang mereka. Burung-burung pipit berkicau, sahut-sahutan. Jalanan masih basah karena gerimis disubuh hari. Itulah yang dirasakan kelima sahabat Sara. Suasana seperti inilah yang harus terjadi dan dirasakan oleh Sara ketika kakek tersayangnya telah tiada. Mungkin dengan seperti itu, beban, sedih, dan kesepian Sara terkelupas perlahan-lahan. Sara yang duduk diantara Sisil dan Marcel, melihat kearah burung-burung pipit yang terbang dan bersarang didahan pohon cemara. Pantulan sinar matahari yang lewat dicelah-celah daun cemara yang menari karena sepoi-sepoi angin, mengenai mata dan wajah Sara. Saat itulah tanpa sadar, air mata Sara mengalir dipipinya. Mata Sara ditutupnya agar air matanya berhenti untuk mengalir. "Sar, kamu nggak apa-apa?", tanya Marcel. "enggak, nggak apa-apa kok! Santai aja kali. Aku cuma sedikit sedih. Suasana permai kayak gini nggak bisa dirasain lagi sama kakekku....", terang Sara. "yakin kamu nggak apa-apa?", tanya Alex yang cemas pada Sara. Sara hanya bisa tersenyum kecil untuk meyakinkan Alex. Entah kenapa Alex mulai ikut sedih ketika melihat Sara menangis. Dia seperti sangat mengerti apa yang dirasakan Sara.
Arti dari huruf kanji jepang yang aku jadikan judul blog adalah kisah, dibaca 'monogatari'. Ini kisah bersambung online ku. Nama tokoh aku ambil dari nama sohib-sohibku. Soalnya, kalau soal nama dalan cerita, aku susah nyari-nya dan nama yang kupakai ini cukup keren, lah. Kuharap kalian menyukainya. Kalau bisa mohon kritik dan saran kalian tentang kisah-kisah ini, supaya aku bisa membuat kisah yang lebih menarik lagi untuk kalian. Arigatou Gozaimashita~~~~.... \(^-^)/
Selasa, 27 Desember 2011
Senin, 26 Desember 2011
THERE IS AN ILLUSION & MIRAGE AFTER HOLIDAYS
"halo, Alex? Ini aku Bhima''. "oh, Bhima. Ada apa pagi-pagi telfon aku? Masih sarapan nih!". "......Alex, ada yang nggak beres.....". "ada apa....?". Pagi itu Alex bergegas menuju rumah sahabatnya, Sara, setelah Bhima menelefonnya dan bicara sedikit aneh padanya. Sesampai didepan gang rumah Sara, terlihat Bhima, Sindy, Sisil, dan Marcel berkumpul dengan wajah cemas. Tanpa pikir panjang, Alex menghampiri mereka. "ada apa nih? kok cemas gitu?", tanya Alex. "Lex, aku khawatir sama Sara nih...", kata Sisil yang sudah dari tadi lebih cemas dan gelisah dari yang lain. "kenapa?", tanya Alex lagi. "mending kita langsung aja kerumah Sara. Kita lihat apa yang sebenarnya terjadi. Ayo!", ujar Sindy. Terlihat ramai dirumah Sara. Bukan ramai karena bersenang-senang dibulan yang Fitri ini, tapi ramai karena saling berduka cita. Bendera tanda kematian dipasang didepan rumah Sara yang sederhana itu. Semakin cemas hati kelima remaja itu melihat bendera itu berkibar halus karena ditiup angin sepoi-sepoi. Dari dalam rumah Sara terdengar suara tangis keluarga Sara. Suara itu semakin membuat cemas mereka. Kecemasan ditambah lagi ketika seorang bapak separuh baya menghampiri mereka dan berkata, "kalian adalah sahabat yang baik. Yang bisa kalian lakukan hanya bersabar dan pasrah pada Yang Kuasa, nak." sambil mengelus rambut Alex pelan dan halus. Wajah orang itu tersenyum tapi ada kesedihan juga dibalik senyumnya. Mungkin untuk menenangkan mereka agar tak cemas lagi. Tapi karena terasa ada yang aneh, bukannya hilang cemas itu, tapi malah bertambah. "orang itu bicara apaan sih? Kok aneh gitu?", kata Marcel. "apa perlu kita tanya dia?", usul Sisil. Mereka semua mengangguk tanda mengiyakan. Tapi ketika akan melangakah, tiba-tiba saja mata Alex dan Marcel ditutup dari belakang oleh seseorang. "kalian datang juga rupanya!", bisik orang itu kepada mereka dengan sedikit keras sehingga Bhima, Sisil, dan Sindy bisa mendengar suara itu. Refleks Alex dan Marcel kaget. Mereka berlima langsung menghadap ke orang itu. Siapakah orang yang berlagak akrab dengan mereka ini?
THERE IS AN ILLUSION & MIRAGE AFTER HOLIDAYS
Permulaan......
Marcel, si gadis gemuk yang hatinya tulus, baik, dan sabar. Banyak teman yang menjauhinya karena fisikknya yang gemuk. Sehingga dia hampir sering menangis dikamar karna kesepian. Untungnya Marcel bersahabat dengan Sisil. Dia orangnya hitam manis, lucu, dan cukup baik. Dia suka berteman dengan Marcel karena Sisil sangat peduli dengannya. Sisil juga bersahabat dengan Sindy yang kocak, suka berteman, dan manis pula. Walau beda agama, dia sangat enjoy dalam hubungan persahabatan ini. Sindy bersahabat dengan Bhima. Cowok cuek, nyebelin, tapi baik. Kelihatannya dia anak yang manja, keren, pintar bermain gitar. Bhima juga suka membatu teman-temannya yang kesusahan. Bhima juga bersahabat dengan Alex yang sifatnya mandiri, pintar, egois dan kekanak-kanakan. Tapi kalau dia sedang serius, sifatnya juga jadi dewasa dan keren. Kelima remaja ini bersahabat dengan Sara. Gadis yang cerewet, manis, seperti anak kecil, berani, dan kadang egois juga pemarah. Tapi dia suka menjalin hubungan pertemanan. Cewek ini gampang jatuh cinta, tapi karena tidak terbalaskan cintanya, dia menganggap itu cinta sesaat.Dia akan mencintai seseorang jika orang itu membalas cintanya juga. Yang jelas, persahabatan lebih penting dari segalanya. Mereka selalu bercanda ria, saling membantu dalam senang maupun duka.Semua itu masih dirasakan walau ada sesuatu yang ganjal dan perlahan-lahan disadari oleh mereka satu persatu.... Setelah liburan......
Langganan:
Postingan (Atom)